Tata Cara Persyarataan Umroh 2019

Tata Cara Persyarataan Umroh 2019

Haji dan umrah merupakan 2 ibadah yg berbeda akan namun mempunyai tempat yg sama yaitu di kota makah, disparitas berdasarkan ke 2 ibadah ini telihat menurut hukumnya yang mana jika ibadah haji wajib  di kerjakan menawan yg sanggup minimal 1 kali dalam seumur hayati karena termasuk keliru satu menurut rukun islam yang lima syahadat, shalat, puasa, zakat & ibadah haji, sedangkan jika ibadah umrah adalah hukumnya sunnah. Tdak hanya sebatas hukum syarat rukun menurut kedua ibadah ini mempunyai sedikit disparitas termasuk ketika pelaksaannya.

 & wajib  umroh seperti yg akan di bahas nanti di bawah, sehingga dengan begitu umrah juga acapkali pada sebut menggunakan haji kecil atau al hajju al ashghor.

Mengetahui rapikan cara pelaksanaan ibadah haji & umrah secara detail termasuk semua hal yg berkaitan pada dalamnya sangat krusial sekali terutama rukun haji, lantaran bila nir pada ketahui dengan baik maka takut nanti ibadahnya tidak sempurna sampai pada anggap tidak absah. Sayang rasanya bila perjalanan jauh kesana yg membutuhkan saat lama  , tenaga yg poly terlebih menghabiskan puluhan juta namun hajinya nir paripurna menurut syariat, maka sang karenanya harus sahih-benar paham apa saja rukun, syarat dan pembatalan dari haji termasuk umrah.

Memang tidak bisa di pungkiri jika belum pernah mengerjakannya sama sekali, tahu secara detail kesuluruhan dai pelaksanakan ibadah haji dan umrah menggunakan baik mampu di bilang relatif susah sebab relatif banyak sekali tidak selaras menggunakan shalat yang hanya di kerjakan beberapa mnt saja dengan beberapa gerakan dan bacaan, akan namun pada ibadah ini ada banyak hal yg harus pada pahami termasuk kesunnahannya. Oleh karena itu di sini kami akan sedikit merangkum penjalesan menurut ibadah haji & umrah gampang-mudahan bisa di pahami dengan baik.

Pertama:
apabila seorang akan melaksanakan umrah, dianjurkan untuk mempersiapkan diri sebelum berihram menggunakan mandi sebagaimana seseorang yg mandi junub, menggunakan wangi-wangian yang terbaik bila terdapat & menggunakan sandang ihram.

Kedua:
Pakaian ihram bagi pria berupa 2 lembar kain ihran yg berfungsi menjadi sarung & epilog pundak. Adapun bagi perempuan  , dia memakai pakaian yang telah disyari’atkan yg menutupi semua tubuhnya. Tetapi tidak dibenarkan menggunakan cadar/ niqab (penutup wajahnya) dan nir dibolehkan memakai sarung tangan.

Ketiga:
Berihram berdasarkan miqat buat dengan mengucapkan:

لَبَّيْكَ عُمْرَةً

“labbaik ‘umroh” (aku  memenuhi panggilan-Mu buat menunaikan ibadah umrah).

Keempat:
apabila khawatir nir dapat menyelesaikan umrah lantaran sakit atau adanya penghalang lain, maka dibolehkan mengucapkan persyaratan sehabis mengucapkan kalimat di atas menggunakan mengatakan,

اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي

“Allahumma mahilli haitsu habastani” (Ya Allah, tempat tahallul di mana saja Engkau menahanku).

Dengan mengucapkan persyaratan ini—baik pada umrah juga waktu haji–, apabila seseorang terhalang buat menyempurnakan manasiknya, maka beliau diperbolehkan bertahallalul dan nir wajib  membayar dam (menyembelih seekor kambing).

Kelima:
Tidak terdapat indera khusus buat berihram, namun jika bertepatan menggunakan waktu shalat harus, maka shalatlah kemudian berihram selesainya shalat.

Keenam:
Setelah mengucapkan “talbiah umrah” (pada poin ketiga), dilanjutkan menggunakan membaca & memperbanyak talbiah berikut ini, sembari mengeraskan bunyi bagi pria dan lirih bagi wanita sampai tiba di Makkah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك

“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, saya menjawab panggilan-Mu, aku  menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,  saya menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).

Ketujuh:
apabila memungkinkan, seorang dianjurkan buat mandi sebelum masuk kota Makkah.

Kedelapan:
Masuk Masjidil Haram menggunakan mendahulukan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid:

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

“Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).[1]

Kesembilan:
Menuju ke Hajar Aswad, lalu menghadapnya sembari membaca “Allahu akbar” atau “Bismillah Allahu besar ” lalu mengusapnya dengan tangan kanan & menciumnya. Apabila nir memungkinkan buat menciumnya, maka relatif dengan mengusapnya, kemudian mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Apabila nir memungkinkan buat mengusapnya, maka relatif dengan memberi isyarat kepadanya dengan tangan, namun nir mencium tangan yg memberi isyarat. Ini dilakukan pada setiap putaran thawaf.

Kesepuluh:
Kemudian, memulai thawaf umrah 7 putaran, dimulai berdasarkan Hajar Aswad & berakhir di Hajar Aswad jua. Dan disunnahkan berlari-lari mini   pada tiga putaran pertama & berjalan biasa dalam 4 putaran terakhir.

Kesebelas:
Disunnahkan jua mengusap Rukun Yamani pada setiap putaran thawaf. Tetapi nir dianjurkan mencium rukun Yamani. Dan bila tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka tidak perlu memberi isyarat menggunakan tangan.

Keduabelas:
Ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca,

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Rabb kami, karuniakanlah pada kami kebaikan pada dunia & kebaikan pada akhirat dan selamatkanlah kami menurut siksa neraka). (QS. Al Baqarah: 201)

Ketigabelas:
Tidak terdapat dzikir atau bacaan eksklusif dalam saat thawaf, selain yang disebutkan pada no. 12. Dan seseorang yang thawaf boleh membaca Al Qur’an atau do’a dan dzikir yang beliau suka .

Keempatbelas:
Setelah thawaf, menutup kedua pundaknya, lalu menuju ke makam Ibrahim sembari membaca,

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“Wattakhodzu mim maqoomi ibroohiima musholla” (Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim loka shalat) (QS. Al Baqarah: 125).

Kelimabelas:
Shalat sunnah thawaf 2 raka’at di belakang Maqam Ibrahim[2], dalam rakaat pertama sesudah membaca surat Al Fatihah, membaca surat Al Kaafirun & dalam raka’at ke 2 sehabis membaca Al Fatihah, membaca surat Al Ikhlas.[3]

Keenambelas:
Setelah shalat disunnahkan minum air zam-zam & menyirami kepada dengannya.

Ketujuhbelas:
Kembali ke Hajar Aswad, bertakbir, kemudian mengusap & menciumnya jika hal itu memungkinkan atau mengusapnya atau memberi isyarat kepadanya.

SA’I UMRAH

Kedelapanbelas:
Kemudian, menuju ke Bukit Shafa buat melaksanakan sa’i umrah & jika telah mendekati Shafa, membaca,

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

“Innash shafaa wal marwata min sya’airillah”  (Sesungguhnya Shafa & Marwah adalah sebagian menurut syiar Allah) (QS. Al Baqarah: 158).

Lalu mengucapan,

نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ

“Nabda-u bimaa bada-allah bih”.

Kesembilanbelas:
Menaiki bukit Shafa, kemudian menghadap ke arah Ka’bah sampai melihatnya—bila hal itu memungkinkan—, lalu membaca:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  (3x)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. (3x)

Tiada sesembahan yg berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala kebanggaan buat-Nya. Dia yg menghidupkan dan yg mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Tiada sesembahan yg berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Dialah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya & mengalahkan tentara sekutu menggunakan sendirian.”[4]

Keduapuluh:
Bacaan ini diulang 3 kali & berdoa di antara pengulangan-pengulangan itu menggunakan do’a apa saja yg dikehendaki.

Keduapuluhsatu:
Lalu turun berdasarkan Shafa & berjalan menuju ke Marwah.

Keduapuluhdua:
Disunnahkan berlari-lari kecil dengan cepat dan sungguh-sungguh di antara dua indikasi lampu hijau yg beada di Mas’a (loka sa’i) bagi pria, lalu berjalan biasa menuju Marwah & menaikinya.

Keduapuluhtiga:
Setibanya pada Marwah, kerjakanlah apa-apa yg dikerjakan pada Shafa, yaitu menghadap kiblat, bertakbir, membaca dzikir dalam no. 19 dan berdo’a dengan do’a apa saja yang dikehendaki, perjalanan (berdasarkan Shafa ke Marwah) dihitung satu putaran.

Keduapuluhempat:
Kemudian turunlah, kemudian menuju ke Shafa dengan berjalan di tempat yg ditentukan buat berjalan & berlari bagi laki-laki  pada tempat yang dipengaruhi buat berlari, lalu naik ke Shafa dan lakukan seperti semula, dengan demikian terhitung 2 putaran.

Keduapuluhlima:
Lakukanlah hal ini sampai tujuh kali dengan berakhir di Marwah.

Keduapuluhenam:
Ketika sa’i, tidak ada dzikir-dzikir eksklusif, maka boleh berdzikir, berdo’a, atau membaca bacaan-bacaan yg dikehendaki.

Keduapuluhtujuh:
Jika membaca do’a ini:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ

“Allahummaghfirli warham wa antal a’azzul akrom” (Ya Rabbku, ampuni dan rahmatilah saya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa & Maha Pemurah), tidaklah mengapa  lantaran telah diriwayatkan menurut ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya mereka membacanya saat sa’i.

Keduapuluhdelapan:
Setelah sa’i, maka bertahallul menggunakan memendekkan semua rambut ketua atau mencukur gundul, & yg mencukur gundul itulah yang lebih afdhal. Adapun bagi perempuan  , cukup menggunakan memotong rambutnya sepanjang satu ruas jari.

Keduapuluhsembilan:
Setelah memotong atau mencukur rambut, maka berakhirlah ibadah umrah dan Anda sudah dibolehkan buat mengerjakan hal-hal yang tadinya dilarang ketika dalam keadaan ihram.

Demikianlah ringkasan amalan umrah yg adalah faedah dari Buku “Petunjuk Mudah Manasik Haji dan Umrah”, penulis Abu Abdillah, terbitan Darul Falah.

Preparing one day before umroh, 4 Dzulqo’dah 1431 H, in King Saud University, Riyadh, KSA

Muhammad Abduh Tuasikal
[1] Do’a masuk masjid & keluar masjid sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Sa’id:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Jika salah  seorang pada antara kalian memasuki masjid, maka ucapkanlah, ‘Allahummaftahlii abwaaba rohmatik’ (Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu). Jika keluar berdasarkan masjid, ucapkanlah: ‘Allahumma inni as-aluka min fadhlik’ (Ya Allah, aku  memohon pada-Mu di antara karunia-Mu).” (HR. Muslim no. 713)

[2] Yang dimaksud Maqam Ibrahim, yaitu tempat berdiri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam waktu membangun Ka’bah, bukan kuburan beliau. Shalat pada belakang Maqam Ibrahim bila kondisinya memungkinkan. Adapun apabila nir memungkinkan lantaran dipadati sang orang-orang yan thawaf atau yg mengerjakan shalat, maka boleh shalat pada loka mana pun di dalam Masjidil Haram.

[3] Dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu yg amat panjang disebutkan,

فجعل المقام بينه وبين البيت [ فصلى ركعتين : هق حم ] فكان يقرأ في الركعتين : ( قل هو الله أحد ) و ( قل يا أيها الكافرون ) ( وفي رواية : ( قل يا أيها الكافرون ) و ( قل هو الله أحد

“Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqom Ibrahim antara dirinya & Ka’bah, lalu dia laksanakan shalat dua raka’at. Dalam dua raka’at tadi, dia membaca Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas) & Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas).” (Disebutkan sang Syaikh Al Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 56)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tata Cara Persyarataan Umroh 2019"

Posting Komentar